
Batang Hari (MAN 2 Batang Hari) - Kepala MAN 2 Batang Hari, Khoirul Pahmi, S.Pd.I., M.Pd.I., menyoroti tiga prinsip penting yang sebaiknya menjadi pedoman bagi guru dalam dunia pendidikan, menurutnya mendidik dengan rasa untuk meraih asa sesuai dengan prinsip kurikulum cinta yang di gagas oleh Kementerian Agama dan diyakini mampu memberikan dampak positif bagi karakter siswa yang ideal.
Pertama, prinsip "Ath-Thariqatu ahammu minal maddah" yang berarti metode lebih penting daripada materi. Menurut Khoirul Pahmi, keberhasilan pembelajaran sangat dipengaruhi oleh cara guru menyampaikan pelajaran. Pemilihan dan penerapan metode yang tepat akan membantu siswa lebih mudah memahami materi yang diajarkan.
Kedua, "Al-Mudarrisu ahammu minath thariqah" yang berarti guru lebih penting daripada metode. Dalam hal ini, peran aktif guru menjadi faktor utama dalam keberhasilan proses belajar-mengajar. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga berperan sebagai fasilitator dan motivator yang membimbing siswa dalam proses pembelajaran.
Ketiga, "Wa Ruhul Mudarris ahammu minal mudarris" yang berarti jiwa atau ruh guru lebih penting daripada sosok guru itu sendiri. Nilai-nilai spiritual dan moral yang dimiliki seorang guru menjadi pembeda antara guru yang sekadar mengajar dengan guru yang mampu menginspirasi serta membentuk karakter siswa.
Lebih lanjut, Khoirul Pahmi menjelaskan bahwa dalam "ruh mudarris" atau jiwa guru, terdapat empat nilai utama yang harus dikembangkan secara konsisten. Nilai-nilai ini menjadi fondasi yang membuat guru menjadi panutan sejati di mata siswa.
Nilai pertama adalah Mukhlisin atau keikhlasan. Guru yang bekerja dengan ikhlas tidak semata-mata mengutamakan materi atau status, melainkan berlandaskan niat ibadah untuk mencerdaskan anak bangsa. Keikhlasan ini menciptakan suasana belajar yang lebih bermakna karena energi positif yang terpancar dapat dirasakan oleh siswa. Khoirul Pahmi menegaskan, "bahasa lisan sampai ke telinga, bahasa hati sampai ke hati."
Nilai kedua adalah Sobirin atau kesabaran. Guru dihadapkan pada beragam karakter dan kecepatan belajar siswa, sehingga kesabaran menjadi kunci dalam menghadapi tantangan tersebut. Guru yang sabar tidak mudah menyerah ketika siswa mengalami kesulitan, melainkan terus mencari pendekatan yang tepat agar siswa dapat memahami materi dengan baik.
Nilai ketiga adalah Rahman dan Rahim atau kasih sayang. Proses pendidikan tanpa kasih sayang hanya akan menjadi transfer ilmu yang kaku. Guru yang penuh kasih sayang mendidik dengan hati, memberikan perlindungan, dan menunjukkan empati kepada siswa. Dengan demikian, sekolah atau madrasah menjadi lingkungan yang aman dan nyaman bagi siswa untuk belajar dan berkembang.
Nilai keempat adalah Uswatun Hasanah atau menjadi teladan yang baik. Guru merupakan contoh nyata bagi siswa dalam kehidupan sehari-hari. Sikap jujur, disiplin, dan tutur kata guru akan langsung ditiru oleh siswa. Oleh karena itu, menjadi teladan dinilai lebih efektif dalam membentuk karakter siswa dibandingkan hanya memberikan nasihat.
Khoirul Pahmi menegaskan, jika keempat nilai tersebut dapat diinternalisasi oleh setiap guru, maka mereka tidak hanya akan melahirkan siswa yang cerdas secara intelektual, tetapi juga beradab dan berakhlak mulia. Sebaliknya, jika ruh seorang guru hilang, sulit untuk berharap lahirnya generasi yang berkarakter baik. Ia pun menutup penjelasannya dengan ungkapan, "Wallahu'alam." (AR)
|
498x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Batang Hari dan Sekitarnya
Memuat tanggal...